Keanehan capres 2014

Keanehan Prabowo Mulai Terkuak
Selama ini saya tak terlalu
memperhatikan sisi-sisi
negatif dari kedua capres: Prabowo
dan Jokowi.
Kalaupun saya beberapa kali
membandingkan mereka
melalui tulisan, saya lebih menyukai
membandingkan
kelebihan keduanya. Siapa yang lebih
baik, kira-kira
begitu.
Namun akhir-akhir ini, semakin saya
selami gerak-
gerik mereka dalam persiapan maupun
usaha
memenangkan pilpres, saya mulai
melihat keanehan-
keanehan. Tetapi keanehan itu
terutama saya lihat
pada diri Prabowo Subianto. Mari
simak.
1. Mengidentikkan Dirinya Seperti
Sosok Soekarno
Calon presiden Prabowo Subianto
sering
mengidentikkan dirinya seperti sosok
Presiden ke-1
Republik Indonesia Soekarno dikritik.
Hal ini terlihat
dari cara berpakean, cara berbicara
dan gerak tangan
saat bicara, dan termasuk ide. Dalam
banyak hal,
sangat kelihatan Prabowo meniru
sosok Soekarno, dia
meng-Soekarno-soekarnokan dirinya
sendiri.
Ini sangat aneh, karena Soekarno
musuh politik dari
ayah Prabowo, Soemitro
Djojohadikusumo. Dulu
Soemitro kerap beseteru dengan
Soekarno.Selain itu,
Soemitro dulunya merupakan sosok
yang sangat dekat
dan pro dengan kebijakan-kebijakan
Amerika.
Sementara Soekarno merupakan sosok
yang antiasing
dan anti terhadap kebijakan-kebij
akan Amerika.
Kalau kita mempelajari biografi
Soekarno dan
membandingkannya dengan Prabowo,
beda jauh, baik
asal-usul, jiwa maupun karakter
masing-masing.
2.Meminta Rakyat Tidak Memilih
Pemimpin yang
‘Omdo’.
Bakal calon presiden Prabowo
Subianto menyatakan,
seorang pemimpin harus membuktikan
kemampuannya dengan tindakan,
bukan sekadar
ucapan. Dia meminta masyarakat
tidak memilih
pemimpin yang hanya bicara tanpa
ada tindakan
nyata. "Jika hanya dengan ucapan,
rakyat belum bisa
melihat dengan benar kemampuan
pemimpin itu dan
bisa saja menjadi teperdaya," kata
Prabowo, dalam
Rapimnas Pemuda Panca Marga di
Hotel Milenium,
Jakarta, Jumat (30/5/2014) malam.
"Kalau orang Betawi
bilangnya 'omdo'. Omong-omong
doang. Jangan pilih
pemimpin yang 'omdo'!"
Tindakan, kata Prabowo, akan
memperlihatkan dengan
jelas kualitas seorang pemimpin.
Menurut Prabowo,
pemimpin yang baik melakukan
sesuatu dengan
tindakan, bukan hanya main
perintah. Dia pun
menjadikan kegiatan baris-berbaris
sebagai salah satu
contoh sederhana dari kedisiplinan
kolektif dan
kualitas seorang pemimpin.
"Saya katakan, baris-berbaris
melatih jiwa persatuan,
melatih saling percaya. Menunjukkan
mereka bisa dan
mau dipimpin. Jangan yang ada
hanya perintah-
perintah. Jangan yang 'jarkoni,
ngajari isa ngelakoni
ora isa'," ujarnya. Dalam bahasa
Indonesia,jarkonitersebut berarti
"hanya bisa
memberi pelajaran, tetapi tidak bisa
menjalani".
Aneh sekali pernyataan Prabowo ini.
Yang sudah
membuktikan kemampuannya dengan
tindakan
(memimpin masyarakat), bukan
sekadar ucapan,
siapa? Prabowo atau Jokowi?
Menurut saya Jokowi,
sewaktu walikota Solo dan Gubernur
DKI Jakarta. Lalu,
yang ‘omdo’ itu, siapa? Menurut saya
justru Prabowo,
karena akhir-akhir ini Prabowo kerap
mengumbar janji
muluk-muluk yang kurang masuk akal
untuk
diwujudkan. Contoh: menasionalisasi
asset asing di
Indonesia, memenuhi 10 poin tuntutan
buruh KSPI
kalau terpilih Presiden, salah satu
menaikkan upah
buruh 30%.
Satu lagi yang aneh, Prabowo
mencontohkan
pemimpin yang baik melakukan
sesuatu dengan
tindakan adalah pemimpin baris
berbaris. Saya ketawa
mendengarnya, apa ga ada contoh
lain pha?.
3.Mau Menikah Dengan Perempuan
Thailand
Menurut beberapa berita media,
termasuk
Kompas.com, Prabowo disebut-sebut
dekat dengan
seorang perempuan Thailand. Bahkan,
disebutkan,
mereka akan menikah seandainya
Prabowo tidak
khawatir memiliki isteri seorang
warganegara asing
yang mungkin akan mempengaruhi
ambisinya merebut
kursi kepresidenan.Demikian bocoran
kawat
diplomatik Kedutaan Besar Amerika
Serikat pada 3 Juli
2006yang disebarkan Wikileaks .
Kawat diplomatik itu
mengutip informasi dari politisi Partai
Golkar
Poempida Hidayatulloh yang disebut
sangat dekat
dengan Prabowo. (Sampai tulisan ini
saya buat, belum
lihat ada bantahan dari pihak
Prabowo)."Poempida
claimed that Prabowo had
established a business
venture for this woman, and the
couple was close
enough that they would marry if
Prabowo were not
worried about how having a foreign
wife might affect
his lingering presidential
ambitions,"tulis kawat
diplomatik itu.Aneh kan Prabowo
kalau mau beristri
kembali harus memilih WNA, padahal
sangat banyak
wanita Indonesia yang cantik-cantik.
Dan sampai
sekarang, masih aneh dan agak
misteri juga kenapa
Prabowo bercerai dengan putri
Presiden Soeharto, Siti
Hediati Hariyadi yang akrab disebut
Titiek Soeharto
justru saat Soeharto dipaksa lengser
tahun 1998.
Padahal mereka sudah dikaruniai
seorang putra
bernama Ragowo Hediprasetyo
(Didiet Prabowo).
Pertanyaan: bagaimana Prabowo bisa
bercita-cita
untuk mengurus Negara sedangkan
mengurus
keluarganya saja tidak becus?
Kalau mau Presiden, sebaiknya
Prabowo memiliki istri
terlebih dahulu. Harus itu. Mengutip
pendapat Ketua
Umum Perangkat-perangkat
Muslimat Nahdlatul
Ulama (NU) Khofifah Indar
Parawansa, banyak
program pemerintah yang tidak
tersentuh, dan
seyaogianya peran penting ibu
negaralah yang
menggerakkan relawan untuk
menjalankan program
tersebut. "Misalnya PKK, Posyandu,
sering kali
digerakkan olehvolunteer," kata
Khofifah di Asrama
Haji Pondok Gede, Jakarta Timur,
Jumat (30/5/2014).
"Kehadiran ibu negara itu penting
untuk bisa
menjadispiritdanrole modeldalam
pemberdayaan
masyarakat di negeri itu, provinsi,
kota, dan
sebagainya," kata Khofifah.
4.Mengamini Dirinya Dinilai Ganteng
dan Lebih Pantas
Dipilih Sebagai Presiden?
Memang keanehan utama harus
dialamatkan kepada
Amien Rais dan Anies Matta, yang
mengkampanyekan
supaya rakyat Indonesia memilih
capres yang ganteng
dan kaya raya, yaitu Prabowo.
Apalagi Amien Rais
mengatakan memilih presiden yang
ganteng sesuai
dengan ajaran umat islam.
Namun Prabowo pun saya anggap
aneh karena
mengamini pendapat Amien Rais dan
Anies Matta, dia
senyum bangga pertanda setuju,
menurut saya.
Apanya yang ganteng? Mungkin di
masa remajanya
Prabowo ganteng. Tetapi sekarang
yang sudah berusia
62 tahun, yang sudah kelihatan kerut
di wajah dan
lehernya, yang bibirnya sudah
membulat, yang
badannya sudah gendut (dan saya
kurang tahu apakah
giginya masih utuh) masih layak
disebut ganteng? Saya
pikir, para wanita akan memilih Anies
Baswedan lebih
ganteng dari Prabowo, padahal Anies
Baswedan tidak
digembar-gemborkan sebagai pria
ganteng.
Perbandingan fisik antara Jokowi
dan Prabowo
menurut saya, yang tepat
diperbandingkan adalah
yang satu kurus dan satunya kekar,
yang satu wajah
ndeso dan satunya wajah jagoan. Itu
saja. Kalau
kegantengan sudah tidak relevan,
karena Jokowi sudah
50-an tahun dan Prabowo sudah 60-
an tahun.
Lagi pula menganjurkan supaya rupa
fisik sebagai
dasar pertimbangan untuk memilih
presiden adalah
kemunduran peradapan dan
pembodohan masyarakat.
Kalau sikap dan perilaku dijadikan
dasar
pertimbangan, wajar. Masak karena
dicitrakan Jokowi
sederhana dan santun lalu
dimunculkan citra ganteng,
rupayan sebagai tandingannya?
Aneh, kan?
5.Menjunjung Tinggi Kebebasan Pers
Prabowo mengaku menjunjung tinggi
kebebasan pers
di Indonesia. Hal itu dikatakan
Prabowo saat
berkunjung ke redaksi Jawa Pos, di
Surabaya, Jawa
Timur, Kamis (29/5/2014). Menurut
saya,
pernyataannya itu aneh dan
kontradiktif dengan
sikapnya terhadap insan
pers.Pasalnya, Prabowo
kerap emosi ketika ditanya wartawan
mengenai hal
sensitif terkait dirinya. "Ketika
ditanya oleh wartawan,
pertanyaannya agak kritis, soal
pelanggaran HAM
misalnya, Prabowo selalu kelihatan
sangat emosional.
Saya sama sekali tidak percaya janji
prabowo akan
menjaga kebebasan pers jika melihat
sifatnya yang
emosional itu," kata Karyono,
Direktur Eksekutif
Indonesian Public Institute Karyono
Wibowo dalam
diskusi bertajuk 'kebebasan pers:
Agenda Jokowi atau
Prabowo?' di Jakarta, Sabtu (31/5/
2014).Menurut
Karyono, sikap Prabowo itu
berbanding terbalik
dengan calon presiden Joko Widodo
alias Jokowi, yang
selalu santai dalam menghadapi
pertanyaan apapun
yang diajukan wartawan. Karyono
memberi contoh
ketika Jokowi ditanya wartawan
mengenai isu sensitif
seperti kasus dugaan korupsi bus
transjakarta. Ia
melihat Jokowi selalu menjawabnya
dengan santai dan
baik.Jokowi belum pernah
menggembar-gemborkan
masalah kebebasan pers, tetapi saya
meyakini
Gubernur DKI Jakarta ini pasti bisa
menjaga aspek
kebebasan pers jika terpilih sebagai
presiden.
Www.facebook.com/ronaldyos

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebohongan Yang Indah

Gang Setan